Skip to main content

Bahaya, Bukan Hanya Saluran Pernapasan, Corona Juga Menyerang Bagian Ini

Makin hari, informasi mengenai korban keganasan Corona makin meningkat, baik yang suspect, positif, maupun yang meninggal. Saya tidak mau menyebut nominalnya, yang jelas jumlahnya bukan sedikit. Meski demikian, ada pula kabar baik terkait virus Corona ini. Jumlah yang sehatnya juga terus bertambah, meski tak sebanding dengan jumlah korban, dan kita semua berharap semoga semakin bertambah lagi yang sembuhnya.

Covid-19, corona, corona virus
Sumber gambar: pixabay.com

Virus Corona yang konon menyerang saluran pernapasan manusia sebagai target utamanya, juga berpengaruh  besar terhadap kehidupan sosial, ekonomi, budaya, dan juga religi. Banyak cerita yang ditimbulkan dari merebaknya wabah Corona tersebut, baik dunia nyata maupun maya.

Berita mengenai Corona yang begitu deras dan terus-menerus baik di tv maupun media sosial membuat beberapa orang makin khawatir, bahkan panik. Misal, di jalanan mendengar suara ambulan, pikiran kita jadi penuh prasangka, termasuk saat mendengar rekan atau tetangga yang sakit. Selain itu, jangan jauh-jauh lah, saat kita di jalan, kemudian tiba-tiba mendengar suara yang batuk saja, kita sudah parno lebih dulu. Di supermarket, banyak orang-orang yang belanja secara berlebihan karena khawatir kehabisan barang. Media sosial pun tak luput dari wadah kepanikan. Banyak sekali berita seputar Corona yang belum tentu kebenarannya. Dan masih banyak lagi ketakutan atau kepanikan yang bisa kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari akibat dari wabah ini.

Malah saya punya teman, ini kisah nyata lho (semoga dia tidak baca), saking seringnya baca berita mengenai Corona, ambulan lewat saja dekat kostannya, dia langsung sesak dan demam. Padahal kan ga gitu juga ya? Mungkin aja itu ambulan yang lewat tanpa membawa atau menjemput pasien, tapi ya faktanya demikian. Selain itu, dia juga sering bertanya mengenai gejala-gejala yang timbul dari Corona. Bahkan sampai bertanya untuk cek korona baiknya saat demam atau pas lagi sesak, kan horor ya? Akhirnya saya sarankan untuk mengurangi membaca berita-berita Corona, biar tidak makin panik.

Tempat ibadah lain lagi ceritanya. Kini jadi sepi, eh tapi biasanya juga sepi ya? He..he..he.. Di tempat tinggal saya sih masih ada jumatan, belum seperti Jakarta. Tapi meskipun demikian jamaahnya tetap waspada, malah beberapa masjid sudah menyediakan handsantizer di pintu masuk untuk jaga-jaga, cuma ya tetap aja parno. Saat khatib khutbah atau saat salat, lalu terdengar ada suara yang batuk, fokus kita jadi ambyar, ingin rasanya melirik siapa dan di mana yang batuk itu berada, dan rasanya di ruangan itu seperti hanya ada saya dan yang batuk itu, padahal kan harusnya tidak seperti itu.

Kalau di salah satu kabupaten yang ada di jawa barat, bikin gemes ini ceritanya, dan kabupaten itu tempat saya lahir. Salah satu rumah sakit yang ada di sana mengalami pencurian masker. Pencurian masker di rumah sakit tersebut sudah dua kali terjadi. Masker yang dicurinya pun dalam jumlah yang banyak. Beruntungnya sang pelaku sudah ditangkap oleh pihak yang berwajib. Lebih mengejutkan lagi, ternyata pencurinya orang dalam alias oknum pegawai rumah sakit. Setelah aksi pencuriannya berhasil, mereka jual masker curian itu ke penadah di luar kota, sebelum dijual lagi dengan harga yang tinggi oleh penadahnya. Hatinya  sudah terinfeksi korona ya, seperti itu jadinya.

Terkait efek Corona terhadap harga barang di pasaran, sejauh ini sih kalau harga-harga belum ada kenaikan yang signifikan. Tapi tidak tahu untuk ke depannya. Cuma kalau harga barang yang berkaitan dengan kesehatan seperti masker, handsanitizer, dan yang bisa dijadikan disinfektan memang sudah melonjak sejak beberapa hari ke belakang, terutama di toko-toko online. Banyak penjual nakal yang memanfaatkan momen seperti ini untuk kepentingan pribadi. Di samping itu, memang karena bahannya sudah mulai terbatas. 
Melihat keadaan yang ada, menurut saya, virus Corona ini bukan hanya menyerang saluran pernapasana saja, tetapi lebih besar dari itu. Yaitu mampu menyerang hati, akal dan pikiran manusia.  Dampaknya pun berimbas pada kehidupan sosial, budaya dan religi masyarakat.

Semua memang ada hikmahnya, termasuk Corona. Biasanya kita ke luar rumah sembarangan, makan sembarangan, serta jarang cuci tangan. Tapi setelah merebak wabah Corona, kita lebih peduli lagi terhadap kesehatan, rajin cuci tangan, makan jadi agak hati-hati, termasuk menghindari keramaian dan lebih banyak di rumah.

Kita semua berharap, agar musibah ini segera berakhir, agar kehidupan kembali normal seperti sedia kala. Bekerja tanpa rasa was-was, ibadah tenang, harga-harga normal, dan  tentu saja menimati akhir pekan dengan menonton sepakbola. Kita juga tidak boleh khawatir dan takut secara berlebihan karena itu sama sekali bukan solusi, yang ada merugikan diri sendiri.

Comments