Skip to main content

BABY BLUES, PERNAHKAH?

Aku tak begitu paham dengan istilah-istilah penyakit psikis. Tapi aku yakin itu ada. Karena bagaimanapun setiap orang tentu pernah mengalaminya, ada yang ringan bahkan berat. Penyakit psikis banyak ragamnya. Kebanyakan yang dibahas kini ialah tentang baby blues. Baby blues secara sederhananya yang kupahami adalah gangguan psikolgis yang terjadi pasca melahirkan. Biasanya ini terjadi karena seseorang merasa “kaget” atas perubahan yang begitu drastis pada dirinya setelah melahirkan. Jika baby blues tidak segera ditangani maka kemungkinan besar akan berlanjut menjadi post partum depresion, bahkan post partum psikosis yang sangat berbahaya bagi penderita dan orang terdekatnya terutama sang bayi.

Apakah aku pernah mengalami yang namanya baby blues? Mungkin iya. Belum genap tiga tahun aku memulai hidup baru menjadi seorang ibu. Masih lekat di ingatan bagaimana ruwetnya menjalani masa-masa awal pasca melahirkan, bahkan keruwetan itu dirasakan sebelum melahirkan.

Ya, aku melahirkan saat usia kandunganku 42 minggu satu hari. Saat 40 minggu usia kehamilan aku sudah merasa jengah mendengar pertanyaan “kapan melahirkan?” dari banyak orang. Pertanyaan yang siapapun tidak akan bisa menjawabnya, kecuali bagi mereka yang memilih dan merencakan melahirkan dengan cara SC.

Tanda mulai memasuki proses menuju melahirkan itu akhirnya muncul tepat di minggu ke 42. Aku sudah yakin karena itu tidak terasa seperti kontraksi palsu. Nyerinya berkelanjutan dan terus berulang secara konsisten. Pembukaan satu baru terjadi saat siang hari. Saat itu masih kuat berjalan-jalan, tapi nyeri yang kurasa sebenarnya lebih nyeri saat hari-hari pertama datang bulan. Nyerinya makin terasa, dan aku tahu pembukaan makin berlajut. Setelah magrib baru pembukaan enam. Aku masih memaksa diri untuk tidak merengek atau sekadar merintih menghayati nyeri di pingggang yang sebenarnya sudah tak karuan. Ini baru pembukaan enam, masih ada selanjutnya.
Setelah lama menunggu, dini hari baru pembukaan lengkap. Setiap datang kontraksi aku harus mengejan untuk membantu proses bayi keluar. Sudah berlalu satu jam, tapi si bayi masih saja belum bisa keluar. Aku sudah kepayahan, tenaga sudah terkuras. Hingga bidan menegurku karena saat terjadi kontraksi yang ke sekian aku malah diam bukan mengejan. Oh tahukah kau saat itu apa yang kurasakan? Aku sudah merasa amat sangat letih.

Menjelang subuh, keadaan sudah darurat. Detak jantung bayiku yang masih di dalam melemah. Aku sudah pasrah, karena merasa sudah tak ada lagi tenaga, aku benar-benar lelah. Bidan melakukan tindakan pelebaran jalan lahir. Sebenarnya sejak periksa pembukaan satu aku sudah menduga akan terjadi hal ini, karena bidan mengatakan jalan lahirku sempit. Selang beberapa menit setelah pengguntingan, gelombang itu datang, gelombang kontraksi yang lebih hebat dari sebelumnya. Bidan menyemangati untuk mengejan. Entah kekuatan dari mana, aku sanggup mengejan dan lahirlah bayi mungil itu.
Bayiku sudah lahir dalam keadaan sehat dan sempurna. Saat melakukan IMD, bidan juga melakukan episiotomi. Entah berapa jahitan yang diakukan, sepertinya banyak. Kau tahu rasanya bagaimana? Lebih nyeri daripada kontraksi. Bayangkan saja jarum dan benang berulang kali ditusukkan dan ditarik pada bagian intimmu yang baru saja mengeluarkan badan bayi. 

Seperti kebiasaan pada umumnya, tetangga akan menjenguk saat tahu tetangganya  telah melahirkan. Banyak yang mendoakan dan ucapan selamat karena sudah melewati proses  yang istimewa dalam hidup. 

“Iraha ieu ngajuruna? Teu apal bejana,” kata seseorang pada ibu mertua. (kapan ini lahirannya? Gak tahu kabarnya).
“Tadi subuh. Ah da sok pada arapal. Da bageur budak teh, teu gogoakan, ngan ngerenghik we hungkul, bari eta oge teu mineng,” jawab ibu. (Tadi subuh. Ah suka pada tahu (sendiri). baik anaknya, ngga teriak-teriak, Cuma meringis saja, itu juga tidak sering).
“Dijait teu?” (dijahit tidak)
“Dijait, da darurat,” (dijahit, karena darurat)
“Ayeuna mah nya nu ngajuru teh olo-olo. Kudu ku bidan, kudu dijait. Bareto mah, lancar we teu kudu dijait sagala, raheut saeutik mah wajar,” ucap seseorang, entah siapa.

Deg.
Mendengar itu rasanya ada nyeri yang menelusuk di hati. Saat itu aku baru saja selesai mengganti pakaian setelah tadi subuh melahirkan. Asisiten bidan pun masih membereskan sebagian peralatan yang sebelumnya digunakan. Selang infus masih menancap di tanganku. Nyeri di bagian bawah setelah dilakukan jahitan makin terasa.

Bukan keinginanku melahirkan dengan adanya tindakan episiotomi. Sudah aku usahakan untuk tetap dalam posisi yang tepat saat melahirkan, tanpa adanya gerakan mengangkat panggul, harus kutahan gerakan meski sebenarnya ingin, agar rasa nyeri teramat sangat itu dapat teralihkan. Tapi bukan karena sobekan spontan yang terjadi, melainkan tindakan dari bidan. Andai bukan karena keadaan yang darurat, mungkin tindakan itu tidak akan dilakukan.

Aku diam saja. Sebenarnya ingin segera keluar, ingin tahu siapa yang menghakimiku sebagi orang manja itu. Tapi ku urungkan. Karena badan yang masih letih, ingin segera berbaring lagi. Belum lagi memikirkan tata krama dan kesopanan. Meski sebenarnya saat itu kurasa mereka yang tidak sopan. Sudah menjenguk tanpa tahu waktu, tidak jaga ucapan pula. Aku cukup tahu diri, saat itu adalah tempat mertuaku, akan tidak baik jika aku menyanggah.

Kondisi pasca melahirkan sungguh menguras rasaku. Aku merasakan pegal yang amat sangat di sekujur badanku. Aku keluhkan pada suami dan ibu mertua. Suami pun tak banyak komentar. Entah bingung harus bagaimana atau memang tidak peduli. Mamah bilang memang begitu, apalagi aku baru pertama kali hamil dan melahirkan. Kata mamah, nanti akan dipanggilkan tukang pijat supaya aku bisa relaks.

Selain sakit di sekujur badan, aku juga jadi merasa lebih sensitif. Sering aku bingung sendiri, aku merasa menjadi cengeng. Aku sering merasa sakit hati. Apalagi hari pertama menjadi ibu, ASIku belum keluar. Semua orang seperti khawatir. Sebenarnya aku paham kondisi itu, hal itu wajar. Aku tahu ASIku akan keluar menjelang tiga hari setelah melahirkan. Aku pun merasa bahwa bayiku kuat tidak diberi ASI selama ASIku belum muncul. Awalnya aku tenang saja.

Tapi ketenangan itu porak poranda begitu saja. Ketenangan itu dihancurkan oleh kekhawatiran orang sekitar yang berlebihan. Ada yang menyarankan bayiku diberi air putih, sari kurma, lebih parahnya madu. Untungnya suami berkeras tidak melaksanakan saran mereka. Tapi, saat malam tiba suasan hatiku makin tidak karuan. Bayiku menangis di malam pertamanya di dunia. Kerabat yang ada di rumah lebih cemas lagi. Mereka semakin memaksa untuk memberi bayiku minum.
Ibu mertua hanya bisa diam, karena yang menyarankan lebih tua darinya. Aku tahu mamah sungkan untuk menolak. Aku makin kesal, aku sudah berkata tidak, tapi mereka terus memaksa. Gusar, kuambil saja botol sari kurma, kucolek isinya menggunakan jari tengah. Lalu kumasukan telunjukku pada mulut bayi. Bayiku mengemut jariku, mungkin dia kira itu adalah yang dia hisap saat IMD. Kutatap suamiku yang juga tengah menatapku. Mungkin dalam benaknya dia kecewa atas tindakanku. Tindakanku sudah menggagalkan rencana ASI ekskusif pada bayi kami. Aku balas menatapnya tajam, aku hanya ingin menyampaikan bahwa “kau lihat? Ini karena ulah kerabatmu,!” tapi tak kuucapkan. Hanya tatapan tajam saja sebagai isyarat bahwa aku marah. Meski bayiku tak merasakan sari kurma itu, tapi aku sangat kecewa atas sikap diamnya menghadapi keadaan yang menjengkelkan itu.

Frustrasi. Itu yang kurasakan di awal-awal pekan menjadi ibu. Apalagi setelah sepekan menemani, suamiku harus kembali ke luar kota. Dari jauh hari kami sudah sepakat bahwa setelah melahirkan, aku akan tinggal bersama keluarga dari suamiku, tinggal bersama mertua. Saat suami akan berangkat, dia pamit pada orang tua kami, menitipkan aku, tidak lupa juga memohon maaf karena sudah merepotkan. Dia pun berpesan padaku agar bersabar dan mendoakan agar cepat pullih. Kemudian dia berangkat. Pergi begitu saja, tanpa adanya mengusap kepalaku, tanpa adanya cium kening, bahkan mengulurkan tangannya untuk kucium pun tidak!

Pandanganku mengiringi langkahnya saat keluar rumah hingga menutup pintu. Bahkan aku terus menatapnya dari jendela saat dia menaiki sepeda motor dan berlalu pergi. Tanpa bisa ditahan air mata terus bercucuran di pipiku. Mamah segera mengusap bahuku. Mamah mencoba menenangkan. Membujukku bahwa suamiku seminggu lagi pasti pulang. Bukan karena terpisah dari suami yang membuatku menangis. Tapi sikapnya saat pergi, membuatku merasa tidak diinginkan. Merasa ditinggal begitu saja.

Entah karena saat itu terjadi perubahan hormon yang begitu pesat, hingga itu berefek juga pada psikologisku. Hampir setiap hari ada saja yang membuat moodku tidak baik. Walau mertua dan kakak iparku sudah sangat baik membantu dan mencukupi segala kebutuhanku, tapi itu tidak lantas membuatku tenang. Aku sering tersinggung oleh ucapan kerabat atau tetangga yang datang menjenguk. Mungkin mereka tak sengaja membuatku tersinggung, merasa pun tidak.

Aku tidak bisa mengadu apa yang aku rasakan pada orang tuaku. Mengadu pun aku yakin mereka tak kan membuatku tenang apalagi membela. Pada mertua atau kakak ipar, aku tak berani. Aku sudah banyak merepotkan. Sasarannya, aku sering marah-marah pada suamiku. Kesal sedikit, aku chat dia. Aku luapkan yang kurasa saat itu, meski tak semua.

Puncaknya saat aqiqah dilaksanakan. Banyak kerabat dan tetangga yang datang. Awalnya itu membuatku senang. Kami bersuka cita saat itu. Meski tanpa kehadiran suami yang saat itu tidak bisa hadir karena tidak bisa meninggalkan pekerjaan. Badanku saat itu sudah terasa jauh lebih baik.

Saat menyusi anakku, datanglah kerabat mertuaku masuk kamar dan mengajakku berbincang. Awalnya hanya obrolan ringan. Kemudian dia bertanya rencanaku setelah ini. Aku katakan setelah akhir tahun akan kembali ikut suamiku ke luar kota. Beliau bilang, bagus kalau aku akan ikut lagi dengan suami, karena memang suami harus didampingi. Tapi dia menyarankan untuk menitipkan bayiku pada mertua. Katanya supaya aku bisa kembali bekerja, lagipula kasihan mamah mertuaku sudah dari dulu ingin punya anak perempuan, tapi tidak kunjung punya anak lagi.

Aku cepat menyahut, menolak usulnya. Aku bilang tidak ingin lebih merepotkan mertuaku. Bukannya selesai, kerabat itu malah makin menjadi. Dia bilang harusnya aku memberikan saja anakku pada mertua, karena aku belum cukup mahir mengurus bayi. Ditambah lagi dia berkata, bahwa aku begitu tega jika membawa anakku nanti. Itu akan membuat mertuaku sakit hati, padahal mertuaku sudah susah payah mengurusku dengan bayiku, katanya.

Saat itu, kekesalan sudah menggelegak di dadaku. Aku ingin jelaskan panjang lebar bahwa aku tidak akan meninggalkan bayiku. Tapi, kembali aku hanya bisa menahan ucapanku. Tapi kerabat itu seolah tidak mengerti dan terus meracuniku untuk mau menitipkan bayiku pada mertua. “Aku tidak akan menitipkan bayiku pada siapapun, bahkan pada orang tuaku, tidak akan,” ucapku tegas. Dia terlihat kaget saat tahu aku sedang menatapnya. Segera ia pergi, beralasan ada yang tertinggal di dapur.

Perkataan itu sungguh sangat menggangguku. Aku jadi sering merasa cemas dan curiga. Kadang aku berpikir, mungkinkah perlakuan mertuaku yang baik itu adalah caranya supaya aku mau memberikan anakku? Aku sering menangis diam-diam. Aku kahwatir kalau ternyata semua itu benar. Aku bahkan sudah berpikir jauh bahwa suamiku juga terlibat dalam rencana itu. Tidak akan pernah terjadi! Aku tidak akan pernah rela jika harus meninggalkan anakku.Susah payah aku mengandung dan melahirkan anakku, seenaknya saja mereka ingin mengambilnya! Aku akan terus bersama anakku, apapun yang akan terjadi, meski harus meninggalkan suamiku.

Setelah keadaanku terlihat sehat, mamah terkadang pergi ke ladang atau sawah, membantu pekerjaan bapak. Disaat itulah aku sering punya waktu berdua saja dengan bayiku, jika teteh (kakak ipar) sedang keluar tentunya. Di saat itu pula pikiranku makin liar. Sempat aku menghitung-hitung uang simpananku, mengira-ngira berapa nilai perhiasanku jika dijual. Aku menghitungnya, berjaga-jaga jika aku harus kabur dengan bayiku agar dia tidak diambil. Aku rasa aku sudah selangkah lagi menuju gila!

Terkadang pula aku marah pada diriku sendiri. Aku begitu tidak tahu diri menaruh curiga pada mertua yang begitu baik padakku. Aku merasa dianggap tak tahu apa-apa dalam mengurus bayi, dan itu membuatku kesal. Lagi-lagi aku sering menangis.

Aku lelah dengan keadaan itu. Aku yakin, ada yang salah dengan diriku. Apakah perubahan hormon yang begitu drastis itu mengubah mentalku juga? Mungkin memang berpengaruh.

Mencoba untuk berdamai aku lakukan, karena aku yakin aku butuh ketenangan, juga hiburan. Bayangkan saja menjadi ibu baru memang tidak mudah, membuatku merasa tertekan. Aku menghubungi teman yang setidaknya bernasib sama denganku, melahirkan di rumah mertua, bertanya dan curhat tentang apa yang kurasakan. Selain itu, aku juga sering berkomunikasi dengan isteri almarhum guruku. Entah mengapa aku merasa lebih nyaman untuk banyak bertanya tentang perkembangan bayi padanya dibanding orang tuaku.

Dari interaksi itu perlahan aku mulai meyakini bahwa yang terjadi padaku memang sering terjadi pada ibu baru. Sesuatu yang wajar tapi akan menjadi tidak wajar jika terus belarut. Hal yang selalu aku khawatikan, itu hanya kecemasanku saja yang berlebihan.

Tepat di awal tahun aku kembali ke kota. Kembali tinggal bersama suamiku, tentu membawa serta anak kami. Kami akan memulai hidup bertiga. Saat itu aku meminta maaf pada mamah mertua, karena tentu selama aku bersamanya, banyak tingkahku yang tidak berkenan. Sebaliknya justru mamah meminta maaf padaku, karena katanya selama aku di sana, terkadang dia tidak segan membentakku. Bukan karena benci, melainkan karena mamah tidak menganggap aku menantu. Justru mamah merasa bahwa akulah anaknya. Aku sungguh sedih mendengarnya, amat menyesal sudah menaruh curiga. Saat itu kami sama-sama menangis sambil berpelukan.
***
Beberapa waktu lalu, aku mengunjungi teman yang satu bulan melahirkan. Dalam pertemuan itu tentu kami membahas soal menjadi ibu baru. Tidak terlewat juga temanku bercerita, lebih tepatnya curhat pengalamannya.

Di pekan awal pasca melahirkan, temanku mengaku merasa tertekan dengan statusnya sebagai seorang ibu. Dia merasa dituntut harus berperan menjadi seorang ibu yang seperti ibunya, seperti mertuanya, atau saudaranya. Datang kerabat satu, berkata harus begini dan begitu. Datang lagi yang lain, harus berlaku ini dan itu. Dia merasa orang-orang menjelma menjadi bidan dadakan dan menganggap dia tidak tahu apa-apa soal bayi.

Di saat ia masih merasakan sakitnya jahitan di jejak SC dan merasakan ketidaknyamanan karena perubahan hormon di tubuhnya, dia juga harus menghadapi keadaan bahwa tidak semua orang mengerti keadaannya. Banyak yang menyuruh melakukan hal-hal yang sudah tidak berlaku saat ini, termasuk memakaikan gurita pada bayi dan memberi bayinya susu formula.

Dia mengaku menangis saat, tanpa persetujuannya, keluarga memberikan susu formula pada bayinya. Padahal saat itu ASInya sudah ada, bahkan sudah deras hingga harus dipompa agar tidak merembes dan terbuang percuma. Puncaknya, saat suaminya harus pergi ke luar kota, dia menangis histeris, tidak mau ditinggal. Padahal, sejak awal menikah mereka sudah terbiasa LDR. Sempat terpikir olehnya untuk mengontrak rumah, dia hanya ingin tenang mengurus bayinya, dengan caranya. Dia ingin hidup bertiga saja.

Menyimak cerita pengalaman teman juga mengingat kembali yang pernah aku alami, aku jadi berpikir bahwa mungkin banyak perempuan yang mengalami ini. Mengalami masa-masa sulit setelah melahirkan. Bisa jadi itu dinamakan baby blues. Keadaan mental yang tidak stabil pasca memiliki bayi.

Perubahan hormon yang begitu drastis dalam tubuh telah membuat mental yang seperti jungkir balik. Apakah itu berlebihan? Kurasa tidak. Hal kecil saja, saat perempuan sedang mengalami mensturasi, pasti mengalami perubahan mood yang membingungkan. Lebih sensitif hingga mudah tersinggung. Ditambah lagi merasakan nyeri yang sungguh tidak nyaman. Sedangkan hamil dan melahirkan, itu ratusan kali lebih berat, lebih rumit untuk dijabarkan dengan cara paling sederhana.

Aku pikir, perempuan pascamelahirkan tidak banyak yang mereka inginkan. Mereka hanya butuh kebaikan. Mereka butuh segala yang baik. Makanan yang baik, yaitu yang mengandung gizi tepat guna untuk pemulihan tubuhnya. Perilaku yang baik, dari keluarga terutama suaminya. Karena bagi perempuan setelah menikah, suami adalah satu-satunya orang yang paling tahu dirinya. Selain perlaku, perkataan yang baik pun ia butuhkan. Kata-kata positif akan membuat mentalnya yang hampir down menjadi bagus kembali.
Tidak menghakimi kesalahan karena ketidaktahuan menjadi hal yang penting. Daripada menghakimi, lebih baik membimbing dengan cara yang baik. Jika newbe momy masih agak kaku dalam mengurus bayi itu adalah hal yang wajar, karena semua ibu juga mengalami hal itu, semua perlu berproses. Hal yang tidak wajar adalah orang-orang di sekitar si ibu yang tidak bisa menjaga sikap. Selain itu pula, sudah semestinya para ibu baru menutup telinga untuk kata-kata yang tidak baik untuk dirinya. Dia harus membangun benteng pertahanannya sendiri, dengan berpikir positif.

Comments